YANG SELAMA INI TIDAK PERNAH TERUCAP





Hari itu awalnya sama seperti hari-hari yang lain.

Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang istimewa. Aku menjalani semuanya seperti biasa, seolah hidupku memang sudah terbiasa berjalan tanpa satu sosok yang seharusnya ada. Tentang ayah… aku sudah terlalu lama mencoba untuk tidak berharap. Bukan karena aku tidak butuh, tapi karena setiap berharap, yang datang justru rasa kecewa.

Aku belajar diam.
Belajar menahan. 
Belajar terlihat baik-baik saja… bahkan saat sebenarnya tidak.

Kadang, di malam hari, aku suka membayangkan kenangan lama. Kenangan yang bahkan aku sendiri sudah tidak terlalu ingat. Kenangan waktu semuanya belum berubah. Waktu aku masih bisa merasa punya ayah tanpa harus bertanya-tanya.

Tapi sekarang… semua itu cuma jadi kenangan yang terasa jauh.

Sampai akhirnya, sore itu, ponselku berdering.

Awalnya aku tidak terlalu peduli. Tapi saat kulihat layarnya, jantungku langsung seperti berhenti sebentar.

Ayah.
Nama itu muncul, dan semua yang sudah susah payah aku tahan… seperti langsung bangkit lagi.

Aku menatapnya lama.
Rasanya aneh. Dekat, tapi juga jauh.
Dengan napas yang tidak teratur, akhirnya aku menjawab.

“Halo…” 

Suaraku kecil.

“Ayah mau ke sini.”

Hanya itu.
Tapi cukup untuk membuat pikiranku kosong.

Setelah telepon ditutup, aku tidak langsung bergerak. Aku hanya berdiri, menatap kosong ke depan. Seolah mencoba menyiapkan diri untuk sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu akan seperti apa.

Aku sempat berfikir.....
ini beneran? atau nanti cuma jadi harapan lagi yang nggak kejadian?

Waktu terasa lama sekali saat menunggu.
Dan saat ayah benar-benar datang…
Aku sudah berdiri di depan pintu.

Dari jauh aku mendengar suara motor ayah berjalan mendekat. Suaranya pelan. Wajahnya terlihat lelah. Entah karena waktu… atau karena sesuatu yang tidak pernah aku tahu.

Semakin dekat.
Dan aku… tetap diam. 
 
Aku tidak menyapa. Tidak tersenyum. Tidak bergerak. Aku cuma berdiri, seperti orang yang kehilangan cara untuk bereaksi.
 
Ayah berdiri tepat di depanku.
 
Kami saling menatap beberapa detik. Tatapan yang penuh canggung, penuh jarak, tapi juga seperti menyimpan banyak hal yang tidak pernah diucapkan.
 
Dan saat itu aku sadar
 
Ayah datang sendirian. Tidak ada mama tiri dan adik-adk tiriku
Dan itu yang semakin membuatku sedih.....
 
Aku membuka pintu pelan.
“Masuk, Yah…”
 
Kami masuk.
Duduk di ruang tamu.
 
Sunyi.
 
Aku bisa mendengar detak jam di dinding. Sesuatu yang biasanya tidak pernah aku sadari, tapi hari itu terdengar jelas sekali. 
 
Aku menunduk. Tanganku dingin. Dadaku terasa penuh.
 
Aku tahu… kalau aku tidak bicara sekarang, aku mungkin tidak akan pernah berani lagi.
Aku menarik napas. 
 
“Ayah…”
 
Suaraku langsung bergetar.
  Aku menatapnya.
 
“Ayah pernah nggak sih… bener-bener mikirin aku?”

Ayah diam.
Aku lanjut, dengan suara yang makin berat.

“Pernah nggak… ayah kepikiran aku lagi nunggu ayah?”

Air mataku mulai jatuh.

“Ayah tahu nggak… aku sering lihat HP cuma buat nunggu notifikasi dari ayah?”

Aku tersenyum tipis, tapi itu pahit.

“Padahal hampir nggak pernah ada…”

Tangisku mulai terdengar.

“Ayah pernah nggak… ngerasa kehilangan aku?”

Ayah menjawab pelan,
“Iya… ayah kepikiran.”

Tapi hatiku tidak terasa lega.

Aku menggeleng.

“Kalau kepikiran… kenapa ayah nggak pernah datang?”
“Kenapa aku yang selalu nunggu… tapi ayah nggak pernah nyari?”

Air mataku jatuh semakin deras.
 
“Ayah tahu nggak rasanya… ulang tahun tapi nggak ada ucapan dari ayah sendiri?”

Suaraku pecah.

“Ayah tahu nggak rasanya… lulus tapi nggak ada yang bangga dari ayah?”

Aku menutup wajahku sebentar.

“Ayah tahu nggak… rasanya pengen cerita, tapi nggak punya tempat buat cerita ke ayah sendiri?”

Ruangan itu terasa semakin sempit.

Aku menatapnya lagi.

“Ayah masih sayang nggak sih sama aku…?”

Suaraku kecil sekarang.

“Aku kadang ngerasa… aku cuma ingatan yang bisa ayah lupain kapan aja…”

Aku tertawa pelan, tapi penuh luka.

“Dan itu sakit…”

Ayah masih diam.
Tapi kali ini aku lihat matanya mulai berubah.
Berkaca-kaca.

Dan itu justru bikin aku semakin hancur.

“Aku juga anak ayah…”
“Tapi aku ngerasa… aku bukan bagian dari hidup ayah…”
 
Tangisku semakin dalam.
 
“Aku nggak pernah ada di cerita ayah…”
“Dan ayah juga nggak pernah ada di harian aku…”
 
Aku menunduk.
 
“Aku cuma pengen ayah itu ada…”
“Sesekali aja… tapi nyata…”
 
Suaraku hampir hilang.
 
“Aku pengen dipeluk… bukan cuma dibayangin…”
 
Hening.
 
Lama.
 
Aku bahkan bisa mendengar napasku sendiri yang tidak teratur.
 
“Aku capek…” bisikku.
“Aku capek nunggu…”
“Aku capek berharap sendirian…”
 
Air mataku jatuh lagi.
 
“Aku nggak mau benci sama ayah…”
“Tapi kalau terus kayak gini… aku takut aku berubah…”
 
Dan di saat itu…
 
Ayah akhirnya berkata,
“Maafin ayah…”
 
Aku langsung menangis lebih keras. Bukan cuma sedih. Tapi karena akhirnya… semua yang aku pendam tidak lagi hanya ada di dalam. Ayah mulai menjelaskan. Suaranya pelan. Sesekali terhenti. Seolah dia juga menahan sesuatu. Aku tidak menjawab. Aku hanya mendengarkan. Sambil menangis.
 
Setelah itu, kami makan bersama. Masih dengan suasana yang belum benar-benar tenang. Lalu ayah mengambil sendok.
 
“Sini…”
 
Aku melihatnya. Dan saat dia menyuapiku… 
Air mataku langsung jatuh lagi.
 
Aku bahkan belum benar-benar siap menerima hal sekecil itu. Tapi justru itu yang membuat semuanya terasa besar. Aku membuka mulut pelan. Menerima suapan itu. Dan di saat yang sama… hatiku terasa penuh sekali. Seperti ada bagian kecil dalam diriku yang selama ini kosong… akhirnya tersentuh. Tapi justru karena itu… rasanya semakin sakit. Aku menangis lagi. Pelan, tanpa suara, dan saat itu aku sadar.... Selama ini aku tidak pernah benar-benar butuh hal besar.
 
Aku hanya ingin diingat.
Ingin dicari.
Ingin dianggap penting… walau cuma sekali-sekali.
 
Hari itu tidak menyelesaikan semuanya.
 
Masih ada luka.
Masih ada jarak.
Masih ada hal-hal yang belum bisa diperbaiki.
 
Tapi setidaknya…
 
Hari itu bukan lagi tentang menunggu sendirian.
 
Karena untuk pertama kalinya…
yang aku rasakan tidak hanya rindu—
 
tapi juga pertemuan yang akhirnya benar-benar terjadi, walau terasa terlambat. 🤍





Posting Komentar

0 Komentar