100 CARA KU UNTUK TIDAK MEMBENCI AYAHKU

 

Aku pernah sangat marah. Aku terkadang masih merasa ditinggalkan. Tapi aku tidak ingin hidupku dikendalikan oleh kebencian. jadi aku menulis ini, bukan untuk ayah tapi untuk diriku 

 

 Karena Aku Tidak Ingin Seperti Dia

1. Aku tidak ingin menjadi manusia pahit.

2. Aku tidak ingin anakku di masa depan merasakan apa yang aku merasakan.

3. Aku ingin mencintai sepenuhnya, bukan dengan syarat.

4. Aku ingin menjadi orang dewasa yang dapat sembuh.

5. Aku ingin menunjukkan bahwa luka tidak perlu diwarisikan.

6. Aku ingin menjadi orang yang hadir.

7. Aku ingin kuat, bukan karena dendam, tapi karena cinta.

8. Aku tidak ingin terus membenarkan seseorang yang sudah lama berlalu.

9. Aku ingin menguasai hidupku sendiri, bukan dirancang oleh ketidakhadirannya.

10. Aku ingin bebas dari penjara pikiran buruknya.


Karena Aku Tidak Bisa Mengubah Masa Lalu

11. Aku tidak bisa memaksakan ayah peduli.

12. Aku tidak bisa memutar waktu agar ia tinggal.

13. Aku tidak bisa menuntut dia jadi ayah yang sempurna.

14. Aku tidak bisa menagih ulang tahun yang ia lupakan.

15. Aku tidak bisa memaksa dia mencintaiku.

16. Aku tidak bisa membuatnya bertanggung jawab.

17. Aku tidak bisa menggantikan hari-hari tanpa kehadirannya.

18. Aku tidak bisa memilih ayahku.

19. Aku tidak bisa memerintahnya datang walaupun aku ingin.

20. Tapi aku bisa memilih cara aku hidup tanpanya.


Karena Ibu Sudah Terlalu Hebat untuk Aku Tambah Bebani

21. Ibu sudah berjuang cukup untuk menggantikan dua peran.

22. Ibu tidak pernah mengeluh, meskipun seharusnya bisa.

23. Ibu mencintai tanpa syarat.

24. Ibu berkerja keras agar aku tidak merasa kurang kasih sayang.

25. Ibu lebih membutuhkan aku kuat daripada marah.

26. Ibu mengajarkanku untuk memaafkan tanpa memaksa.

27. Ibu berkata, "jangan tiru yang menyakitimu."

28. Ibu tidak menjelekkan ayah padahal ia bisa saja.

29. Ibu tidak mengeluh tentang nafkah tetapi aku tahu ia lelah.

30. Aku tidak ingin membebani ibu dengan kebencian yang tidak perlu.


Karena Aku Lebih dari Apa yang Ia Tinggalkan

31. Aku tetap tumbuh.

32. Aku tetap belajar.

33. Aku tetap bernapas.

34. Aku tetap tertawa, meski tanpa dia.

35. Aku tetap bisa bermimpi.

36. Aku bisa menjadi baik meski tanpa panutan darinya.

37. Aku bisa berdiri di kakiku sendiri.

38. Aku bukan anak yang gagal, hanya karena ayah pergi.

39. Aku punya nilai, bahkan tanpa dukungannya.

40. Aku bukan kekurangan, aku kelebihan yang ia abaikan.


Karena Aku Tidak Mau Kehilangan Diri Sendiri

41. Aku tidak ingin terpengaruh oleh perasaan benci.

42. Aku tidak ingin hati penuh dengan amarah.

43. Aku ingin tenang saat tidur.

44. Aku ingin bahagia tanpa perlu kehadiran orang lain.

45. Aku ingin damai dengan masa lalu.

46. Aku ingin hidup untuk masa depan.

47. Aku ingin menyayangi diri sendiri.

48. Aku ingin penyembuhan diri.

49. Aku ingin menjadi seseorang yang bisa memaafkan, tapi bukan melupa.

50. Aku ingin menjaga harga diri sendiri.


Karena Tidak Semua Ayah Mengerti Perannya

51. Mungkin ayahku belum dewasa.

52. Mungkin ia takut gagal, lalu memilih kabur.

53. Mungkin ia tak pernah diajarkan cara menjadi ayah.

54. Mungkin dia membawa luka dari orang tuanya sendiri.

55. Mungkin dia tak sadar betapa berharganya aku.

56. Mungkin ia memilih ego.

57. Mungkin ia sibuk menyelamatkan dirinya sendiri.

58. Mungkin ia terlalu lelah untuk bertanggung jawab.

59. Mungkin ia salah jalan dan lupa arah pulang.

60. Tapi mungkin… aku tidak perlu tahu semua jawabannya.


 Karena Rasa Sakit Ini Akan Menjadi Kekuatan

61. Aku bisa belajar menjadi kuat.

62. Aku bisa menjadi orang yang hadir untuk orang lain.

63. Aku bisa memahami luka orang lain, karena aku pernah merasakannya.

64. Aku bisa menjadi pelindung bagi diriku sendiri.

65. Aku bisa jadi orang yang peduli karena aku tahu rasanya diabaikan.

66. Aku bisa membuat hidupku lebih baik dari hidupnya.

67. Aku dapat menjadi orang yang memberi, bukan meninggalkan.

68. Aku dapat bangkit.

69. Aku dapat sembuh.

70. Aku dapat putuskan rantai ketidakhadiran.


Karena Aku Menolak Mengasihani Diri Sendiri

71. Aku bukan korban, aku pejuang.

72. Aku tidak akan hidup dalam bayang-bayang orang yang tidak hadir.

73. Aku akan berdiri sendiri, walau sempat terjatuh.

74. Aku tidak akan menyimpan amarah selamanya.

75. Aku tidak mau wajah ayahku mengisi setiap sedihku.

76. Aku tidak ingin terus berharap pada apa yang tak datang.

77. Aku tidak membutuhkan belas kasihan.

78. Aku tidak akan mengemis perhatian.

79. Aku tidak ingin menjadi jadi orang yang keras hati.

80. Aku ingin menjadi bukti bahwa luka boleh tumbuh bunga.


Karena Ada Banyak Orang yang Tetap Mencintaiku

81. Ibu.

82. Nenek.

83. Tante.

84. Teman yang selalu ada.

85. Guru yang percaya padaku.

86. Tetangga yang bantu tanpa pamrih.

87. Diri sendiri yang tetap berjuang.

88. Tuhan yang tak pernah meninggalkan.

89. Masa depan yang masih bisa kuperjuangkan.

90. Orang-orang baru yang akan mencintaiku tanpa syarat.


Karena Ini Pilihanku

91. Aku memilih untuk memaafkan.

92. Aku memilih untuk mengikhlaskan.

93. Aku memilih untuk tidak menjadi seperti dia.

94. Aku memilih untuk merdeka dari kenangan buruk.

95. Aku memilih untuk menyayangi diriku sendiri.

96. Aku memilih untuk terus berjalan.

97. Aku memilih untuk melihat ke masa depan.

98. Aku memilih untuk hidup dengan hati yang ringan.

99. Aku memilih untuk menjadi lebih baik.

100. Aku memilih... untuk tidak membencinya bukan karena dia pantas, tapi karena aku pantas untuk damai.



Surat Terbuka untuk Ayah yang Tidak Lagi Tinggal Bersamaku


Untuk Ayah, yang entah masih mengingatku atau tidak…

 

I write this letter not because I am not angry, but because I've already kept all those wounds to myself for far too long.

 

Aku tumbuh tanpa hadirmu, ayah. Tanpa pelukan, tanpa dukungan, tanpa pertanyaan "bagaimana sekolahmu hari ini?", tanpa suara yang menyuruhku belajar atau tidur lebih awal. Bahkan, tanpa ucapan ulang tahun sederhana yang sebenarnya tidak butuh biaya hanya butuh niat. Aku tahu, dulu ayah dan ibu berpisah. Aku masih kecil waktu itu, dan aku tidak mengerti apa-apa. Tapi yang kutahu sejak saat itu adalah: Ayah tidak lagi tinggal di rumah. Tidak lagi datang setiap pagi. Tidak lagi membayar apapun. Tidak lagi mengingat hari ulang tahunku.


 Aku tumbuh dengan banyak tanya.

Ayah ke mana?

Am I not valuable enough to him?

Kenapa ayah tidak kembali, bahkan sekadar melihat dari jauh?


Dan lama-lama, pertanyaan itu berubah menjadi diam...... Aku melihat Ibu menggantikan semuanya. Ia bekerja keras, menahan tangis, menahan lelah, membesarkanku seorang diri. Aku tahu seharusnya itu tugas kalian berdua. Tapi Ayah memilih pergi. Dan sampai hari ini, Ayah tidak kembali.

 

Tapi tahukah Ayah?

Aku tidak lagi menunggu.

Bukan karena aku membencimu, tapi karena aku memilih berdamai. Aku memilih tidak membiarkan bayangan Ayah menguasai hidupku. Aku tidak ingin menjadi seperti Ayah seseorang yang memilih pergi daripada bertanggung jawab. Aku ingin lebih baik. Aku belajar mencintai diriku sendiri. Aku belajar berdiri di kaki sendiri. Aku belajar menjadi seseorang yang hadir sepenuhnya, bahkan saat hati ingin lari.

 So, if one day Ayah reads this letter not to apologize, not to explain, but just to know  I want Ayah to know one thing:

I forgive Ayah

Bukan karena Ayah pantas dimaafkan. Tapi karena aku pantas untuk berdamai. Karena aku ingin melanjutkan hidup tanpa membenci. Karena aku ingin menjadi seseorang yang tetap bisa mencintai, meski tak pernah dicintai dengan layak oleh ayahku. Dan jika suatu hari Ayah ingin kembali mengenal aku, bukan sebagai anak kecil yang ditinggalkan, tapi sebagai manusia yang kuat dan berdiri sendiri aku tak akan menutup pintu.

 

But for now…

Biarkan aku menjalani hidupku.

Dengan tenang. Dengan lapang. Dengan penuh cinta.

Without hate.

 

From me,

Anakmu, yang terus belajar mencintai meskipun tidak diajarkan caranya

 


Posting Komentar

0 Komentar