SEUTAS SENJA DI TEPI WAKTU



Dulu, aku punya teman bernama Aldo. Aldo adalah anak pindahan dari kota alasan aldo pindah karna pekerjaan ayah nya, kami tumbuh bersama di sebuah desa kecil. Setiap hari setelah pulang sekolah, aldo selalu menemaniku bermain boneka di rumah atau memancing ikan di sungai yang tidak jauh dari sana. Aldo adalah tipe anak yang selalu ceria, penuh ide-ide kreatif, dan suka membantu orang lain.

Aldo adalah sahabat pertama sekaligus cinta pertamaku ..... 

Waktu berlalu, dan perasaan yang kupunya untuk Aldo perlahan berubah. Aku menyadari bahwa dia bukan hanya teman terbaikku, tapi juga seseorang yang membuatku merasa berbeda lebih bahagia, lebih hidup. Tapi aku terlalu muda untuk memahami apa itu cinta, aku terlalu takut aldo akan berpidah kota lagi di karenakan kerja ayah nya.

Ada kenangan yang tak bisa aku lupakan dimana aldo terkena hukuman dari mama nya dikarenakan tidak mengerjakan tugas, aku yang menyadari apabila aldo menangis segera melihat aldo dari jendela rumahnya, aku membujuk aldo agar tidak menangis lagi dan ternyata berhasil. Aldo yang memang suka memanjat segera memanjat jendela dan memeluk ku, betapa terkejutnya aku, aku segera membalas pelukan dari aldo dan kita bicara hal hal lucu yang kita alami. Aku terkejut dikala melihat mama aldo berdiri di belakang kita, aku takut apabila aldo akan kena marah segera berdiri dan menunduk aldo bergegas ke mama nya dan meminta maaf karna sudah keluar dari rumah tanpa memberi tahu mama nya, ternyata mama aldo tidak marah melainkan tersenyum kepada kami berdua dan berkata "Anak mama hebat" sambil meletakkan tangan nya di pucuk kepala ku dan aldo, setelah itu kita bermain petak umpet di depan rumah bersama sepupuku dan ada temanku yang ku sebut api.

Hari-hari yang ku rasakan seakan menghangat dikarenakan tidak ada kata kesepian di hidupku aku sangat senang bermain dengan aldo, fifi dan api. 

Namun, suatu hari, segalanya berubah. Ayah Aldo harus berpindah pekerjaan di kota besar, dan mereka sekeluarga harus pindah dengan cepat. Saat itu, aku masih terlalu kecil untuk benar-benar mengerti apa arti kehilangan. Kami tidak sempat berpamitan dengan baik, di karenakan aku yang berada di sekolah dan tidak sempat mengucapkan perpisahan.

Awalnya, aku berharap Aldo akan menulis surat atau kembali berkunjung, tapi hari-hari berlalu, dan aku tidak pernah mendengar kabar lagi darinya. Setiap kali bermain, aku merasa ada yang kurang. Bahkan ketika aku bertambah besar, aku tetap sering bertanya-tanya, bagaimana kabar Aldo? Apakah dia juga merindukan masa kecil kami?

Kadang, saat melewati tempat-tempat yang dulu sering kami kunjungi, aku teringat padanya. Apakah dia juga mengenang masa kecil kami? Atau mungkin dia sudah melupakan semuanya? Aku hanya berharap dia bahagia di mana pun dia berada.

Hingga kini, aku belum tahu di mana dia berada. Kadang aku membayangkan, jika suatu hari kami bertemu lagi, mungkin kami akan duduk bersama, tertawa mengingat kenangan lama, dan berbagi cerita tentang hidup kami masing-masing.

Aku sangat berharap bisa bertemu dengan-nya sekali saja dan memeluknya, tetapi itu hanyalah mimpi yang tidak akan terwujud.

(AKU AKAN MENUNGGU MU)


Posting Komentar

0 Komentar