M`N
Hati yang Menjaga, Tanpa Menyapa
Namaku Maudi.
Dan ini kisah tentang seseorang berinisial N seseorang yang tak pernah tahu bahwa hidupnya diam-diam kusematkan dalam tiap hela nafasku.
Ceritaku bukan cerita cinta yang indah, bukan kisah yang akan dibacakan dengan senyum manis atau diakhiri dengan pelukan hangat. Tidak. Cintaku ini sunyi, gelap, dan sering kali menyakitkan. Tapi dari semua hal yang membuatku tetap bertahan, hanya satu yang paling kuat: aku mencintainya, meski hanya bisa menjaga, tanpa pernah menyapa.
Kami berada di tempat yang sama. Sering kali dalam ruang yang sama. Tapi antara aku dan N, selalu ada jarak-jarak yang tak kasat mata, tapi cukup untuk membuat aku merasa tak terlihat. Setiap hari, aku memperhatikan dia. Cara N duduk, cara dia tertawa hanya setengah, atau ketika dia terdiam menatap keluar jendela seperti ada sesuatu yang tertinggal jauh di masa lalu. Aku mencintai semua itu. Bahkan sisi gelapnya yang orang lain abaikan, justru itu yang paling membuatku ingin tinggal.
Tapi aku tidak pernah bisa mengucapannya.
Aku takut. Bukan takut ditolak. Tapi takut kehilangan hak untuk mencintainya, meskipun dalam diam. Aku takut kalau aku menyapa, dan ia menjauh. Aku takut kalau suatu hari, suaraku akan merusak keheningan yang selama ini kulindungi.
Aku adalah penjaga dari balik bayang-bayang.
N pernah duduk di bangku taman Sekolah selama dua jam, waktu hujan turun tipis. Aku hanya berdiri beberapa meter di belakangnya, tak bergerak, menatap punggungnya yang begitu familiar. Aku ingin datang, ingin bilang, "Kau tak sendiri." Tapi aku diam. Lagi-lagi diam. Aku memilih menjadi angin yang lewat, bukan payung yang datang. Karena aku tahu, payung bisa ditinggal, tapi angin? Ia tetap ada meski tak pernah disadari.
Beberapa orang bilang aku pengecut. Mungkin benar. Tapi tidak semua orang mencintai untuk dimiliki. Ada yang mencintai hanya untuk memastikan seseorang tetap baik-baik saja.
Aku Maudi yang bangun setiap pagi dengan doa untuk seseorang yang bahkan tidak tahu aku hidup. Yang menunggu kehadirannya di lorong yang sama, hanya untuk melihatnya lewat tanpa tahu aku ada di sana. Yang mencintai N dari balik buku catatan, dari pantulan jendela, dari jejak langkah yang tertinggal di lantai kelas.
Waktu terus berjalan. N lulus lebih dulu. Aku tak pernah mengucapkan selamat. Aku hanya melihat dari kejauhan, saat dia berfoto dengan piala di tangannya, dengan senyum yang sekali lagi bukan untukku. Dan aku hanya bisa diam, seperti hari-hari sebelumnya. Seperti semua momen yang kulewatkan hanya sebagai penonton dalam film yang tak pernah menampilkanku sebagai tokoh.
Tapi aku tetap mencintainya. Sampai hari ini.
Karena sebagian cinta tak butuh tempat di hidup seseorang.
Cukup bernafas dalam satu hati, dan tetap tinggal di sana.
Aku Maudi.
Dan aku adalah hati yang menjaga…
Tanpa pernah menyapa.
Hari-hari berjalan Biasa. Langkah kakiku masih tertuju lorong yang sama. Waktu seperti memiliki kenangan sendiri, terus menarikku ke lokasi-lokasi di mana aku boleh melihat N dari jauh. Atas anugerah dan peningkatan prestasinya setelah lulus, jejaknya masih disukai di setiap lubuk sekolah ini. Seperti itu lah alam semesta paham bahwa aku tidak siap betul-betul kehilangan dia.
Beberapa bulan setelah kepergiannya, aku masih suka duduk di bangku taman yang dulu sering dia tempati. Membayangkan N ada di sana, dengan senyumnya yang lelah, dan pandangannya yang jauh. Kadang aku merasa gila, berbicara dalam hati pada sosok yang bahkan tak tahu aku pernah ada. Tapi anehnya, di tengah kehampaan itu, aku merasa lebih utuh.
Aku mulai menulis surat.
Bukan untuk dikirim.
Tapi untuk menenangkan gejolak yang selama ini kubungkam.
"Untuk N,
Hari ini hujan. Seperti tadi sore.
Tapi bangkumu kosong. Dan tidak ada siapa-siapa yang menatap langit seperti dulu.
Aku masih di sini.
Masih menjaga jarak, walaupun kamu sudah jauh.
Aku Maudi, penjaga bayanganmu.
Bukan siapa-siapa, tapi pernah menjadi segalanya… setidaknya dalam pikiranku.
Orang-orang di sekitarku mulai bertanya, "Kamu kenapa makin diam, Maudi?"
Tentu saja aku diam. Karena jika aku mulai bicara, semuanya bisa runtuh. Semua rasa yang bertahun-tahun kukunci bisa tumpah dan menenggelamkanku.
Aku tidak ingin mencintai orang lain. Aku telah mencoba. Tapi setiap kali aku membuka pintu di dalam hati, bayangannya datang tanpa izin. Ia menetap, membekas. Seperti cinta ini pun bukan lagi tentang perasaan, tapi luka yang tidak pernah sembuh karena tak pernah disentuh.
Dan paling menyakitkan?
Aku tahu, mungkin… dia tak akan pernah menyadari bahwa di satu alam kecil sunyi ini, ada seorang Maudi yang hidup hanya untuk mengingatnya.
Bertemu✵
Sampai suatu malam… aku bertemu dia lagi.
Di indomaret. Tanpa rencana. Tanpa aba-aba.
N berdiri di sana, mengenakan jaket lama yang masih kukenali. Tangan di saku. Mata lelah. Rambut sedikit basah oleh gerimis. Aku terpaku. Dunia mendadak sunyi, padahal kendaraan masih berlalu-lalang di belakang kami. Dan saat itu, aku tahu… ini mungkin satu-satunya kesempatan.
Langkahku berat. Kakiku ingin maju, tapi hatiku menggigil. Bagaimana jika dia tak mengenalku? Bagaimana jika aku hanya kenangan yang tak pernah benar-benar hidup dalam dirinya?
Tapi langkah itu tak pernah selesai. Aku tetap di seberang jalan.
Menatapnya dari balik lampu merah, seperti biasa.
Dia menoleh. Sekilas.
Matanya menatap ke arahku dan untuk sepersekian detik, dunia terasa utuh.
Tapi tak ada yang terjadi.
Dia naik motor.
Dan hilang.
Malam itu, aku pulang dalam diam. Tidak menangis. Tidak tersenyum. Hanya… kosong. Tapi dalam kekosongan itu, aku sadar sesuatu:
Aku bukan pecundang karena tidak pernah mengungkapkan.
Aku hanya seseorang yang mencintai lebih dari yang bisa dikatakan.
Aku mencintai dengan cara paling sunyi… dan paling tulus.
Karena bukan semua cinta harus dimiliki.
Beberapa cukup dijaga. Seperti langit yang menjaga bumi,
tanpa pernah memeluknya.
Aku Maudi.
Aku tak dikenal oleh N.
Tapi aku pernah hidup dalam dunia di mana mencintai tanpa memiliki adalah bentuk keberanian paling menyakitkan… dan paling indah.
Sudah tiga hari sejak aku melihat N di indomaret.
Dan hingga hari ini, aku belum bisa melupakan sorot matanya malam itu. Sekilas. Tapi dalam. Seolah ia menatap langsung ke inti dari seluruh sunyiku.
Sejak itu, aku mulai gelisah. Ada sesuatu yang tak bisa lagi kutahan. Cinta ini… rasa ini… sudah terlalu lama diam. Mungkin bukan untuk diungkapkan dengan kata, bukan pula untuk dikatakan di depan wajahnya. Tapi aku bisa menulis. Dan kali ini, aku menulis untuknya. Bukan sekadar untuk diriku.
Aku menyalakan lampu kamar. Dingin. Sunyi.
Kupilih menulis cerita ini di blog yang akan menyimpan seluruh rahasiaku.
Dan untuk pertama kalinya, aku membiarkan semua rasa keluar, tanpa sensor, tanpa topeng.
Untuk N,
Ada banyak hal yang ingin kukatakan, tapi tak pernah sempat.
Bukan karena waktunya tak ada. Tapi karena aku selalu memilih diam.
Kau mungkin tak tahu siapa aku. Atau mungkin pernah melihatku sekilas di lorong, di kelas, di bangku taman.
Aku Maudi.
Bukan siapa-siapa, tapi pernah menjadi seseorang yang mengingatmu lebih dari namaku sendiri.
Aku tahu ini terdengar gila mencintai seseorang yang tak pernah benar-benar hadir dalam hidupku. Tapi begitulah kenyataannya. Aku menyimpanmu dalam doa, dalam hari-hariku yang sunyi, dan dalam setiap puisi yang tak pernah kubagikan.
Aku tidak menulis surat ini untuk membuatmu merasa bersalah. Atau agar kau membalas perasaanku. Tidak.
Aku hanya ingin… kau tahu. Bahwa pernah ada seseorang yang mencintaimu dalam diam.
Seseorang yang menjaga langkahmu, bahkan ketika kau tak melihat ke belakang.
Seseorang yang mengerti rasa kehilangan, bahkan tanpa pernah memiliki.
Dan jika surat ini tak pernah sampai ke tanganmu…
Setidaknya aku sudah menyampaikan pada semesta bahwa cinta ini pernah hidup.
Sekalipun sunyi, ia nyata.
Terima kasih karena pernah menjadi alasan aku bertahan.
Terima kasih karena pernah hadir, meski tak menyadari.
Dan jika suatu saat kau membaca ini, entah kapan, entah di mana
Ketahuilah, aku tak pernah menyesal mencintaimu. Meskipun hanya dari jauh.
– Maudi
Aku melipat lembaran lama itu dengan tangan gemetar. Tidak menangis. Tidak tersenyum. Hanya… tenang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatiku terasa ringan.
Tapi surat itu tidak pernah kukirim.
Aku menyimpannya dalam kotak kayu kecil, bersama semua puisi dan kenangan tentang N.
Bukan karena aku takut. Tapi karena aku mulai menerima satu hal:
Beberapa cinta memang tidak harus sampai.
Beberapa cukup hidup dalam diam… dan berakhir dengan tenang.
Tapi saat itu juga, sebuah pesan masuk ke ponselku. Nomor tak dikenal.
Pesannya singkat:
"Maudi? Aku nemu catatan kecilmu di perpustakaan. Tentang... aku?"
Jantungku berhenti sejenak.
Mataku membeku. Tangan gemetar. N?
.jpg)





0 Komentar